Pentingnya Tahu Bahasa Negara Setempat

Bukannya sombong, tapi saat ini saya sudah mempelajari lebih dari 10 bahasa dunia.

Sudah mempelajari bahasa sebanyak itu tapi tetap saja saya masih sekadar tahu, belum bisa menggunakannya dengan fasih. Yang sering saya gunakan saat ini hanya bahasa Inggris, Prancis dan Rusia (level menengah), karena saya sebenarnya lulusan Sastra Inggris yang mengajar bahasa Prancis dan mengagumi negara Rusia. Agak gak nyambung, sih. Hehehe.

Bagi kalian yang senang traveling, terutama ke luar negeri, penting sekali tahu bahasa di negara setempat. Paling tidak tahu bagaimana mengatakan beberapa kata penting yang kiranya akan kalian butuhkan saat berada di negara yang kalian kunjungi. Saya agak menyesal dulu tidak serius belajar bahasa Spanyol yang menyebabkan kejadian kocak terjadi saat saya sedang berada di Barcelona.

Sore itu sekitar pukul 7, saya hendak membeli makan malam di sebuah warung makan Asia. Saya sudah cukup sering ke sana sebenarnya. Biasanya saya akan disambut oleh pemilik warung, seorang pria Asia ramah berumur sekitar 40 tahunan. Bapak ini lumayan tahu sedikit bahasa Inggris, walau kadang kata yang ia sebut selalu terdengar seperti kata dalam bahasa Spanyol. Biasa, aksen orang Eropa memang sangat kental. Beruntunglah kita orang Indonesia punya lidah yang dinamis dan termasuk salah satu negara dengan tingkat inteligensia penduduk yang cepat belajar bahasa asing.

Awalnya saya berencana untuk makan paella, makanan khas Spanyol yang berupa nasi kuning berisi sayuran dan seafood, dimasak seperti nasi goreng. Namun, karena letak restorannya cukup jauh dan saya sudah sangat lapar, saya memutuskan untuk ke warung Asia itu saja. Tiba di sana, saya tidak disambut oleh bapak yang ramah, melainkan seorang wanita Asia kurus yang saya asumsikan sebagai istri si pemilik warung. Berbeda dengan bapak Asia, si ibu Asia ini terlihat agak takut menyelamatdatangi saya. Ia hanya mengangguk sebagai kode untuk mempersilakan saya masuk. Yah, saya tahu dia tidak bisa bahasa Inggris.

Sebelum duduk di meja, saya sudah bilang ke ibu Asia kalau saya ingin pesan mi goreng. Dengan cukup percaya diri saya mengatakannya dalam bahasa Spanyol. Mungkin pelafalan saya terdengar kurang bagus, si ibu Asia ini tidak mengerti. Haduuh… Kembali saya bilang sambil menunjuk-nunjuk menu di papan. Kali ini tampaknya berhasil karena dia mengangguk-angguk tanda setuju dan mengisyaratkan saya duduk ke meja. Saat sudah di meja, si ibu memperagakan kode seperti menanyakan mau minum apa, dengan menggerakkan tangannya ke mulut sambil memegang botol. Aslik, saya pengin ketawa. Saya bilang, “Water, please.” Dia menggangguk.

Beberapa menit kemudian dia datang dengan membawa air putih. Asyik, ternyata dia paham. Setelah menaruh air mineral di meja, ibu Asia ini seperti menanyakan sesuatu dalam bahasa yang tidak terdengar seperti bahasa Spanyol kepada saya. Saya rasa dia menggunakan bahasa Katalan. Karena saya gak paham, jadi bilang saja no, thanks dengan menggeleng-gelengkan kepala. Dan ibu ini pergi.

Tiga puluh menit lebih berlalu, makanan saya belum datang, dan air mineral juga sudah hampir habis. Saya berdiri, pergi menghampiri si ibu Asia, tanya mana pesanan saya. Tentunya dengan bahasa isyarat cenderung seperti bahasa tubuh. “Noodle, where’s my noodle?” tanya saya. Si ibu plangak-plongok. Jengkel, saya ambil menu dan tunjuk langsung ke menu tersebut. “This one! My order.” Si ibu jawab, “Ah, ok.. ok..” sambil pergi ke dapur dengan santainya. Idih, saya yang sudah lapar hampir kehilangan akal sehat.

Tidak lama kemudian makanan saya datang tapi dengan bungkusan. Waduh! Kayaknya makanan ini sebenarnya cuma dipanasin saja. Yaelah, sudah kelaparan, nunggu lama, makanan juga cuma dipanasin dan dibungkus pula. Fiiuuh…

Saya asumsikan si ibu Asia itu tidak paham dari awal apa yang saya inginkan, dan saat dia menanyakan saya dalam bahasa yang saya tidak mengerti mungkin sebenarnya dia ingin memastikan apa yang ingin saya pesan. Sialnya saya bilang no, thanks, jadi ia pikir saya tidak ingin makan dan mau minum saja. Haduuuh… Lelah juga, ya, miscommunication itu. Hahaha.

Jadi, pesan saya pelajarilah sedikit dasar bahasa negara yang akan kalian kunjungi. Tidak perlu sampai mahir sekali, yang penting tahu saja. Bodohnya waktu itu saya tidak memanfaatkan apps Google Translation. Kalau saja iya, kejadian lucu ini tidak akan terjadi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s