Strolling Around Turin, Italy

Pada trip saya ke Eropa musim semi lalu, saya memang berencana main ke Italia. Waktu itu saya tidak pusing memikirkan mau ke kota mana di sana nanti. Hanya ada satu nama kota yang ada di pikiran saya, yaitu Turin. Alasannya karena ada teman saya, Adriana, yang saya kenal lewat Facebook sudah sejak lama tinggal di sana.

Dulu Adriana bilang kalau Turin ini dekat dengan Prancis, bahkan hanya beberapa jam naik kereta dari Paris. Karena ada embel-embel dekat dengan Paris itu juga yang bikin saya makin tertarik untuk pergi ke sana. Cuma waktu itu, saya pergi ke Turin tidak dari Paris, melainkan dari Munich, Jerman. Alhasil memakan waktu 15 jam, karena saya naik bus. Maklum biar bisa lebih hemat biaya. Hehehe.

Adriana juga baik banget karena dia menawarkan saya untuk tinggal di rumahnya yang bagus dan unik. Awalnya saya tidak berniat tinggal di rumahnya, karena sebenarnya saya sudah booking hostel, tapi saat Adriana menawarkan penawaran itu dengan tulus, saya tidak bisa menolak.

Sekitar pukul 9 pagi, saya tiba di terminal bus Vittorio Emanuele dan langsung dijemput oleh Adriana dan suaminya, Enzo. Baru saja sampai, saya langsung diajak berkeliling kota sama Adriana jalan kaki! Tapi saya tidak mengeluh, saya semangat saja pokoknya. Koper saya diangkut Enzo ke rumahnya, jadi Adriana dan saya saja yang strolling around the city. Karena kita sama-sama suka fotografi, kita jalan sambil foto-foto plus Adriana juga menjelaskan beberapa tempat beserta informasi tentang tempat tersebut.

DSCF3160
Piazza Castello (Castle Square). Alun-alunnya kota Turin di mana terdapat gereja bersejarah, St. Lawrence Church.

Saya pikir Turin ini cuma kota kecil dan tidak metropolitan, ternyata tidak. Selain menjadi salah satu kota yang memiliki budaya menarik di Italia, Turin juga dikenal sebagai kota industri. Yang paling terkenal, pabrik otomotif FIAT berasal dari sini. Uniknya, walau ada fasilitas metro untuk transportasi umumnya, namun line-nya tidak banyak dan seruwet di Paris. Alhasil, penduduk sini pun jarang naik metro dan lebih sering naik bus atau kendaraan pribadi.

Bila kalian ke pusat kotanya, sempatkanlah mengunjungi menara paling tinggi sekaligus menjadi ikon kota Turin, yaitu Mole Antonelliana. Sebuah menara yang dulunya menjadi tempat ibadah orang Yahudi, sekarang diubah menjadi museum seni. Untuk masuk dan naik ke atas menara, cukup membayar sekitar 7 Euro. Bila cuaca sedang bagus, kalian bisa melihat pemandangan indah atas kota Turin dengan latar belakang gunung Alpen dengan layers yang cantik. Sayangnya, saat saya ke sana, cuaca cukup terik dan hazy, jadi kesannya kota penuh kabut polusi. Hiks.

DSCF3169
Pemandangan kota Turin dari atas menara Mole Antonelliana.

Satu tempat lagi yang berkesan bagi saya saat di Turin itu saat Adriana mengajak saya ke sebuah gereja terbesar dan bersejarah di atas bukit bernama Gereja Basilica of Superga yang gede banget. Di dalamnya terdapat makam dari para Dukes of Savory dan Kings of Sardinia. Untuk menuju ke sini, disediakan kereta khusus, yaitu Superga Rack Railway dari daerah Sassi. Saya lupa untuk masuk ke sini mesti bayar berapa karena saya dibayarin Adriana. Yang jelas, saat ikut tur ke dalam gereja, dilarang foto dan mengeluarkan kamera. Ngomong pun tidak boleh keras-keras alias harus bisik-bisik. Saya merasa beruntung ada Adriana, karena turnya dalam bahasa Italy. Alhasil, tiap kali tur guide menjelaskan, dia berbaik hari menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris kepada saya. Berasa tamu elit gitu saya. Hehehe.

Ada juga banyak daerah lainnya yang bisa di-explore dan bagus untuk difoto, seperti perumahan macam ruko yang berada di jalan sempit khas Italia. Namun, jangan tertipu dengan daerah seperti ini. Walau ia berbentuk perumahan di gang sempit, tapi bisa saja ada toko-toko bermerek nyempil di sana. Toko coklat dan kedai kopi juga ada. Asyik, deh, jalan-jalan ke tempat-tempat macam gini. Ambience Italianya sangat terasa.

Hari pertama di Turin, saya langsung diajak oleh teman saya Adriana berkeliling kota. Pokoknya saya tidak peduli mau diajak ke mana saya manut saja. . Dan tibalah kami di sebuah desa di atas bukit yang sampai sekarang saya lupa nama desanya apa. Menurut saya ini bukan desa, tapi lebih mirip daerah tempat tinggal di tengah jalan-jalan tikus namun berbukit. Unik sekali. Walaupun begitu, banyak juga terdapat toko-toko bermerek, toko coklat, dan kedai kopi yang lucu. Seperti foto ini, kelihatannya seperti rumah susun padahal sebenarnya itu etalase sebuah toko pakaian berkelas. Menarik, bukan? . Pokoknya Turin itu indah, bersejarah, dan dekat dengan Prancis. Gak kebayang kalau gak ada Adriana yang berbaik hati mengajak saya jalan-jalan di kotanya, barangkali saya tidak akan tahu ada tempat seperti ini dan paling saya bakal mentok nongkrong di pusat kota saja. #LiveMoreSociety #DBSxKartuPos #travel ••• #vsco #vscocam #Turin #Torino #Italy #ig_turin_ #ig_europa #europe_vacations #europe #living_europe #italyiloveyou #letmeitalianyou #ExploreAllAround #sadawayanstravels

A post shared by Sadawayans | Travel/Lifestyle (@sadawayans) on

Nanti saya akan cerita pengalaman saya pertama kali main ke gunung bersalju di daerah Sestriere. Tunggu blog post selanjutnya, ya! 🙂

Advertisements

7 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s