3 Kota Yang Wajib Dikunjungi di Turki Selatan

Melanjutkan tulisan saya tentang jalan-jalan ke Turki Selatan tempo lalu, saya bilang selama di sana saya mengunjungi tiga kota yang masing-masing memiliki kekhasan. Apa saja tiga kota tersebut dan apa yang bisa dilakukan di sana? Berikut ulasannya:

1. Adana

Setelah transit selama beberapa jam di Doha, pesawat Qatar Airways yang saya naiki lanjut terbang ke Adana dengan durasi sekitar empat jam perjalanan. Buat yang belum tahu, Adana merupakan kota terbesar keempat di Turki dengan jumlah penduduk sekitar satu juta dua ratusan. Ini pertama kalinya saya mendengar tentang kota ini, dan seperti biasa saya tidak pernah tinggi ekspektasi saat mendatangi tempat baru. Biarlah nanti apa yang terjadi, terjadilah sampai sana.

Sampai di bandara Adana yang kecil, kami langsung dijemput oleh tur dan mereka mengajak berkeliling kota Adana sebentar. Begitu keluar bandara saya cukup kaget karena hal pertama yang saya lihat di kotanya adalah… pohon jeruk! Ya, alih-alih ditanam pohon palem atau pohon-pohon lainnya untuk menghias taman kota, Adana lebih memilih pohon jeruk. Lucu juga, karena sangat beda dari kota lain dan di luar ekspetasi saya. Ternyata tidak hanya di Adana banyak pohon jeruk, di kota-kota lain di Turki Selatan yang saya kunjungi pun begitu, termasuk di Konya dan Antalya, bahkan di Antalya ada kebun jeruk yang luas dan memang terkenal dengan kualitas jeruknya yang bagus.

Karena saya hanya dua hari di sini, tempat-tempat yang dikunjungi pun tidak banyak, tapi saya rasa saya mengunjungi tempat-tempat yang oke punya dan memang wajib dikunjungi, seperti:

Sabancı Central Mosque. Bisa dibilang masjid ini ikonnya kota Adana sekaligus masjid terbesar se-kota. Masjid ini tergolong muda karena dibangun pada tahun 1988 dan selesai dibangun di tahun 1998. Meski begitu, konon materialnya dibuat menggunakan material yang sama dengan Blue Mosque yang ada di Istanbul yang dibangun sekitar tahun 1600-an. Selain itu, desain dan dimensinya pun dibuat mirip yang sanggup menampung sekitar 28.000 jemaat di dalamnya. Hebat, ya?

Taşköprü (Stone Bridge). Jembatan batu yang dibuat di era Romawi ini juga merupakan salah satu simbol kota Adana. Dulunya, jembatan ini merupakan jalur perdagangan dari Laut Mediterania ke Anatolia dan Persia. Dari jembatan ini pula pemandangan Sabanci Central Mosque terlihat indah. Uniknya, jembatan ini sempat tutup dan baru dibuka kembali tahun 2007. Sejak itu hingga sekarang, Taşköprü menjadi jembatan tertua yang bisa dilewati kendaraan bermotor. Bila jalan di jembatan ini, kalian akan melihat banyak pedagang kaki lima yang menjuat beragam benda-benda kuno atau barang-barang semacam suvenir dan roti khas Turki yang bentuknya mirip bagel. Pemandangannya sangat khas Turki. Beruntung kalau bisa melihat sunset dari jembatan ini, pasti cakep banget!

DSCF5317
Taşköprü, jembatan batu ikon kota Adana yang membelah Sungai Seyhan.

Ulu Cami (Great/Grand Mosque). Selain menjadi salah satu masjid tua di Turki karena dibangun di abad ke-16, Ulu Cami ini juga unik karena ia merupakan kompleks yang meliputi madrasah dan mausoleum (monumen makam). Dulu kala, selama 450 tahun masjid ini menjadi masjid terbesar sebelum akhirnya dikalahkan oleh Sabancı Central Mosque. Wadaaw! Namun, karena ada gempa bumi tahun 1998, masjid ini ikut hancur dan baru berhasil direstorasi kembali tahun 2004. Yang saya suka, saat masuk ke daerah masjid ini, banyak ada warung yang menjual teh khas Turki. Penduduk sekitar sering nongkrong sore-sore minum teh di taman sambil nunggu azan. Saya dan teman-teman juga coba ikut nongkrong ala orang Turki ini. Chill banget rasanya.

Selain berkunjung ke tempat-tempat ini, jangan lupa juga untuk mencoba kebab Adana yang khas. Kebab Adana memang sudah terkenal di seluruh penjuru Turki. Jadi, akan lebih otentik rasanya bila mencoba makan kebab asli dari tempat asalnya.

2. Konya

Dari Adana, saya menuju Konya, kota yang berada di sebelah Barat Adana yang melewati Gunung Taurus bersalju abadi. Karena letaknya yang cukup tinggi, cuaca di Konya lebih dingin. Walau begitu, kota dengan julukan The City of Hearts ini entah kenapa terasa lebih metropolitan. Ternyata karena Konya termasuk kota berpenduduk padat, sekitar dua jutaan orang. Sebelumnya, Konya juga menjadi tempat tinggal bagi tokoh sufi terkenal Jalaluddin Rumi yang terkenal dengan kata-kata bijaknya. Bila kalian sering mencari kutipan-kutipan tentang kehidupan dan kebijaksaan di internet, biasanya kutipan dari Rumi yang paling sering muncul.

Processed with VSCO with m5 preset
Konya, the city of hearts.

Tempat-tempat yang bisa dikunjungi di Konya kebanyakan berupa museum, tapi karena hanya sehari saya cuma sempat mengunjungi satu museum, yaitu:

Mevlana Museum. Sebelum dijadikan mausoleum seperti sekarang, dulunya merupakan tempat tinggal tokoh sufi terkenal Jalaluddin Rumi. Bila kalian tahu tarian khas Turki yang berputar-putar itu, Rumi-lah yang pertama kali memperkenalkannya. Museum ini cukup luas dan terbagi menjadi tiga bagian:

Bangunan tengah (tempat barang-barang antik dan kuburan keluarga Rumi. Konon, di sinilah Rumi sering mempertunjukkan tarian sufi sebagai cara berinteraksi dengan Tuhan. Beragam jenis Alquran dari besar sampai kecil ada, jubah para ulama pun ada, bahkan ada kotak khusus yang berisi potongan jenggot Nabi! Yang unik saat masuk ke dalam bangunan ini, pengunjung diharapkan melepaskan alas kaki, tapi pengelola museum di sana cerdik, pengunjung akan diberikan pelindung sepatu berupa plastik yang tinggal dibungkus saja ke alas kaki dan tidak perlu sampai melepas sepatu. Lucu, jadi mirip pakai sepatu Aladin),

Bangunan kanan (dulunya berfungsi sebagai dapur, sekarang tempat ini berisi patung tokoh-tokoh ulama di sana. Saya sampai kaget saat masuk ke dalam langsung disambut salah satu patung yang mirip banget kayak asli. Hihihi),

Bangunan kiri (berupa ruangan-ruangan kecil yang sekarang berfungsi sebagai tempat pameran. Ada banyak benda-benda peninggalan tokoh penting di dalamnya).

Saya rasa butuh waktu yang cukup lama untuk mengitari dan membaca informasi yang ada di museum ini, dan bagi saya menarik. Oya, bila musim semi datang, bagian depan museum akan banyak ditumbuhi bunga mawar dan tulip. Bunga-bunga ini juga menjadi bagian penting dalam filosofi museum ini dulunya.

Konya juga punya makanan khas yang menjadi makan Turki favorit saya, yaitu pede atau Turkish pizza. Alih-alih berbentuk lingkaran seperti pizza lainnya, pede bentuknya memanjang sepanjang 1 meter. Isinya daging kambing cincang, bawang bombay, paprika, dan bumbu khas Turki lainnya. Saya rasa saya sanggup makan pede 1 meter ini sendirian. Hahaha.

Processed with VSCO with m5 preset
Pede alias Turkish pizza sepanjang 1 meter. Enyaaak!

3. Antalya

Antalya menjadi kota ketiga yang saya datangi sekaligus menjadi kota favorit saya selama di Turki Selatan. Kenapa? Karena banyak sekali tempat-tempat yang bisa dikunjungi, tidak hanya berupa museum atau masjid atau gereja, tapi wisata alam dari air terjun sampai pantai pun ada. Tidak heran juga, sih, karena Antalya berlokasi di pesisir pantai Mediterania yang menyebabkan cuacanya tidak begitu dingin meski saat winter dan menjadi tempat favorit untuk berlibur bagi wisatawan Eropa, terutama wisatawan Rusia dan Jerman. Yang menarik bila main ke pantainya, kita akan melihat pemandangan pantai dan gunung sekaligus. Cantik luar biasa!

Baru masuk perbatasan kota Antalya, saya langsung disambut oleh deretan pohon jeruk seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Bahkan, saya sempat main ke kebun jeruk milik penduduk setempat buat foto. Untung tidak dimarahi sama yang punya kebun. Hehehe.

Photo Feb 23, 4 57 13 PM
Fotoan di kebun jeruk yang luas. Untung gak kegap sama yang punya 😀

Antalya terkenal dengan situs-situs sejarahnya yang sudah berumur ratusan tahun. Ini juga yang menjadi ciri khas kota ini. Lalu, tempat-tempat apa saja yang wajib dikunjungi di Antalya? Berikut ulasan versi saya:

The Aspendos Antique Theatre. Dulunya Aspendos merupakan kota tua di Pamphylia sekitar 40 km dari kota Antalya modern. Daerah ini juga sempat berada di tangan Yunani dan Romawi, ini tampak jelas di banyak titik yang bertuliskan huruf Yunani. Baru masuk ke dalam, suara langsung menggema. Nyanyi di sini sudah berasa konser di gedung besar. Saya heran padahal tidak ada microphone dan ini outdoor. Hebatnya orang dulu, ya, sudah bisa memikirkan cara seperti itu padahal tidak ada teknologi secanggih sekarang. Teater ini multifungsi, tidak hanya opera dan drama yang dipertunjukkan, bahkan pertunjukkan gladiator pun bisa. Untuk masuk ke teater ini, cukup membayar 25 TL saja, dan sudah bisa berpuas-puas di dalam sana.

Processed with VSCO with m5 preset
The Aspendos Antique Theatre.

Lycia. Dibaca /lykia/ dulunya merupakan daerah geopolitis yang terletak di Selatan pantai Antalya. Hampir mirip dengan Aspendos, di sini juga ada ampiteater tapi ukurannya lebih kecil. Yang menarik saat masuk ke sini, kita langsung disuguhi pemandangan makam berbukit-bukit. Ini mengingatkan saya dengan yang ada di Toraja. Mirip. Kalau tidak salah untuk masuk ke sini, cukup membayar 15 TL saja.

Photo Feb 24, 5 22 00 PM
Menyusuri makam batu di Lycia.

St. Nicholas Church. Berlokasi di daerah Demre (dulunya Myra), diyakini bahwa Santa Claus asli pernah tinggal di sini pada abad ke-4. Umat Nasrani pasti tahu kalau Santa Claus juga dikenal sebagai Saint Nicholas. Saya salut dengan para arkeolog yang menggali dan menemukan gereja ini, padahal gerejanya cukup luas dan setelah digali ditemukan juga beberapa makam yang dipercaya salah satu dari makam tersebut makan Santa Claus. Saat saya masuk pun, makam-makamnya masih awet. Hebat. Untuk masuk ke sini, cukup merogoh kocek sebesar 20 TL.

Processed with VSCO with m5 presetProcessed with VSCO with m5 preset

Düden Waterfalls. Ini tempat paling favorit buat saya selama di Antalya. Sebenarnya ia merupakan kumpulan air terjun yang terbentuk dari sistem daur ulang yang berlokasi sekitar 12 km Timur Laut Antalya, dan terdiri dari Upper Falls dan Lower Falls yang langsung jatuh bermuara di Laut Mediterania. Baru masuk ke areanya saja sudah langsung bisa mendengar gemericik air terjunnya yang segar. Sayang sekali waktu itu gerimis dan dingin jadi tidak bisa lama-lama di sana. Karena saking asyik dan menikmatinya, saya nyaris ditinggal bus waktu itu. Hehehe. Saya lupa masuk ke sini mesti bayar berapa, soalnya terlalu semangat buat turun ke bawah jadi tidak sempat tanya dan tiketnya dibawa oleh tur guide saya.

DSCF5389
Duden Waterfalls yang dikelilingi oleh taman hijau.

Sebenarnya masih banyak lagi tempat yang bisa dikunjungi di Antalya, tapi karena hanya dua hari di sini jadi cuma sempat mengunjugi beberapa. Oya, jangan lupa juga untuk main ke kota tuanya karena bila ingin membeli oleh-oleh di sanalah tempatnya. Lokasinya juga bagus, dekat dengan pelabuhan dan bisa melihat pemandangan laut dari alun-alun kotanya di atas.

Lain kali bila saya dapat kesempatan ke Turki lagi, saya ingin mengeksplorasi Turki Utara yang berbatasan langsung dengan Eropa. Jadi, akan ada alasan lain untuk pergi ke Turki.

Advertisements

9 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s