Kenapa, Sih, Traveling?

Saya pernah bahas ini di Instastory saya beberapa waktu lalu. Ternyata lumayan banyak juga respons positif yang saya dapat. Barangkali ada baiknya kalau saya bahas lebih panjang di sini. Lagi pula, kalau dibagikan di sini bisa dibaca berkali-kali dan gak hilang setelah 24 jam. Betul? Hehehe.

Oke, marilah!

Buat kalian yang belum tahu, saya ini sebenarnya pencinta dan penggiat bahasa. Ketertarikan saya terhadap bahasa sudah ada sejak kecil. Bahasa apapun yang menurut saya menarik akan saya pelajari, hanya saja ternyata saya lebih tertarik mempelajari bahasa asing. Bahasa daerah bagi saya terlalu kompleks. Selain itu, menurut saya sebagai orang Indonesia, sebaiknya kuasailah bahasa nasional kita dengan baik, karena ini bahasa pemersatu bangsa, bukan? Bahasa daerah cukup dilestarikan saja. Caranya? Dengan tetap menggunakannya sehari-hari, misal dengan keluarga atau kerabat dekat. Dengan begitu, bahasa daerah atau bahasa ibu kalian akan tetap hidup.

Terus kalau belajar bahasa asing, apa bedanya dengan mengesampingkan bahasa Indonesia? Hey, jangan salah. Sampai saat ini saya masih tetap belajar bagaimana berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Salah satunya, ya, dengan menulis blog dalam bahasa Indonesia. Dulu blog ini saya tulis dalam bahasa Inggris, tapi akhirnya saya sadar ternyata menulis dalam bahasa Indonesia itu sulit. Menulis dalam bahasa Indonesia yang dapat dengan mudah dipahami banyak orang itu tidaklah mudah. Perlu waktu, konsistensi, dan tentunya harus rajin-rajin nulis. Jadi, jangan bilang kalau saya mengesampingkan bahasa Indonesia. Salah besar.

Baiklah, mari kita lanjut ke kenapa traveling.

Karena saya sering dan suka belajar bahasa asing, timbullah niat untuk mempraktikkan bahasa-bahasa yang telah saya pelajari. Sebelumnya, saya sudah mempelajari kurang lebih 10 bahasa asing, termasuk bahasa Sansekerta kalau itu masih dihitung bahasa hidup, tapi yang bisa dibilang cukup fasih dan sering saya pakai saat ini hanya bahasa Inggris, Prancis, dan Rusia. Ada keinginan untuk tambah satu bahasa lagi, bahasa Jepang, saat ini masih dalam proses belajar.

Merasa tidak akan berkembang kalau cuma belajar di tempat, saya putuskan untuk mempraktikkan bahasa yang saya pelajari dengan penutur asli. Ini sebuah keharusan bagi saya. Memang, sih, bisa dipraktikkan dengan turis di sini, tapi saya tidak mendapat kesempatan itu. Jadi, mulai tahun 2015 saya bertekad untuk traveling ke negara-negara yang memungkinkan saya mempraktikkan apa yang telah saya pelajari di sini dan berinteraksi langsung dengan native speaker.

Saat belajar bahasa Inggris, saya ke Singapura untuk praktik bahasa Inggris. Kenapa tidak ke Australia saja, kan, di sana lebih cocok untuk itu? Jawabannya, ya, karena biaya. Pergi ke Singapura jauh lebih murah dan lebih mudah. Selain itu, tidak perlu visa untuk ke sana, dan dekat kalau mau ke Malaysia (tetap sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Hehehe). Di Malaysia pun saya pakai bahasa Inggris, karena ternyata bahasa Melayu orang sana sulit dipahami.

Lalu, saat belajar bahasa Prancis, saya beruntung sekali karena berkesempatan untuk praktik langsung di Prancis. Cukup nekat juga sebenarnya, karena saya pikir saya harus bisa ke sana bagaimanapun caranya. Apalagi saat itu, saya sudah mengajar bahasa Prancis. Penting sekali untuk tahu bagaimana keadaan Prancis yang sebenarnya. Oya, karena belajar bahasa itu tidak melulu tentang bahasanya saja. Bahasa sama dengan budaya. Jadi, belajar bahasa harus juga belajar budayanya, orang-orangnya, semuanya. Harus sepaket. Bisa dibilang belajar bahasa itu lebih kompleks ketimbang belajar ilmu exact.

Karena sudah di Prancis, sekalian saja kelilingi negara-negara sekitarnya. Inilah keuntungan visa Schengen. Selama di Eropa, saya bersyukur sekali sudah main ke hampir semua negara di Eropa Barat. Nah, selama di sana juga saya merasakan keuntungan bisa bahasa Prancis. Di beberapa negara Eropa banyak yang paham bahasa Prancis, misal di Belgia, Swiss, Austria, Romania, bahkan saat di Barcelona pun ada yang paham. Untung banget, karena sepengalaman saya orang sana gak bisa bahasa Inggris, yang bisa hanya pegawai hostel dan saya tidak menguasai bahasa Spanyol. Nyesel juga karena dulu tidak serius belajar. But no worries, I’m lucky that I can speak French! Baca pengalaman sial saya di Barcelona karena tidak bisa bahasa Spanyol di sini.

Masih ada satu bahasa yang belum saya praktikkan di negara si Empunya dan ingin sekali saya datang ke sana: bahasa Rusia. Saya khawatir, kemampuan bahasa Rusia saya akan menurun karena jarang dipakai. Berharap sekali bisa segera ke sana. Aamiin. Keuntungan bisa bahasa Rusia, kalian akan bisa traveling ke negara-negara Eropa Timur lainnya, secara mereka bekas Uni Soviet yang dulu bahasa resminya bahasa Rusia, walau sekarang mereka sudah jadi negara merdeka dan punya bahasa resmi sendiri-sendiri. But still, they understand Russian.

Saat ini saya sedang belajar bahasa Jepang, dengan harapan tentunya bisa segera ke Negeri Sakura dan mempraktikkan bahasanya dengan menjadi “warlok” sambil makan sushi dan ramen asli sana. Aaah, akan sangat menyenangkan. Aamiin lagi.

Sebelum Instagram hits seperti sekarang dan banyak yang jalan-jalan di Instagram saya sudah melakukannya, cuma tujuannya beda. Namun, berkat Instagram juga saya jadi bisa menyalurkan serta mengasah hobi fotografi saya. Saya akhirnya sadar ternyata passion saya itu ada di bahasa, fotografi, dan menulis. Lewat traveling-lah saya bisa mengekspresikan itu semua. Ada quote dari Nelson Mandela yang selalu saya ingat dan jadi pedoman saya:

“If you talk to a man in a language he understands, that goes to his head. If you talk to him in his language, that goes to his heart.”

Ini nancep banget di saya, dan sudah beberapa kali saya ketemu teman asing yang jadi dekat sampai sekarang karena ini. Buat saya, ini sudah terbukti dan akan saya teruskan.

Terakhir, bagi saya traveling itu seperti bermeditasi, di mana harus bisa fokus di tiap perjalanan, tenang dalam menghadapi segala sesuatu tak terduga, dan pada akhirnya dalam proses perjalanan itulah kita akan mengenal diri kita lebih dalam lagi.

Jadi, sekarang kalau ditanya kenapa traveling, kurang lebih seperti inilah jawaban saya. Kalau kalian, kenapa traveling?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s