Fakta Menarik Tentang Jepang

Perjalanan ke Jepang memang sudah saya rencanakan sejak lama.

Beberapa tahun belakangan saya mulai serius tertarik dengan Jepang dan hal-hal yang berbau Jepang, walau tidak sampai freak seperti para otaku dan sejenisnya. Sampai akhirnya pada tahun ini, saya memutuskan untuk ikut les bahasa Jepang agar bisa berkomunikasi dan bergaul dengan orang lokal di sana nantinya. Saya lebih tertarik untuk menguasai bahasanya dan mendalami budayanya, seperti yang kalian tahu saya suka belajar bahasa asing, dan ini juga salah satu alasan saya untuk traveling.

Bagi yang sudah pernah ke Jepang, pasti sudah tahu bagaimana keadaan dan seluk-beluk yang ada di sana. Bagi saya yang pertama kali ke sana, dan barangkali bagi yang belum pernah ke sana, tulisan ini bisa jadi acuan untuk tahu seperti apa wujud negara yang super maju ini. Namun tetap, apa yang saya beberkan di sini hanya berdasarkan apa yang telah saya lihat, amati, dan alami sendiri selama di sana, serta dari sudut pandang saya sebagai orang asing yang mencoba membaur dengan cara hidup orang Jepang. Bisa jadi berbeda-beda di tiap orang.

Nah, berikut fakta menarik tentang Jepang versi saya.

  • Jarang ketemu tempat sampah, sering ketemu toilet.

Saya baru menyadari hal ini saat saya kewalahan membawa banyak sampah sisa makan siang yang saya makan di sekitar Yoyogi Park. Saya pikir karena di sana taman pasti akan menemukan tempat sampah. Ternyata saya salah. Saya baru ketemu tempat sampah setelah mengelilingi taman yang super luas itu, dan itu pun sudah dekat dengan stasiun kereta. Seringnya saya baru ketemu tempat sampah di dalam stasiun atau di depan supermarket. Oke, jadi kalau saya ingin makan siang, harusnya di tempat yang dekat dengan tempat sampah agar tidak bawa sampah ke mana-mana. Catat!

Jarangnya ketemu tempat sampah berbanding terbalik dengan toilet. Hampir di tiap tempat umum, saya lihat ada toilet. Itu pun toiletnya bersih, tidak bau-bau amat seperti di toilet umum pada umumnya, kebanyakan sudah dengan sistem yang canggih di mana ada banyak tombol ajaib di closet-nya, dan gratis! Ini kebalikan dengan di Paris. Saya sampai takjub sendiri. Buat orang yang beseran seperti saya dulu, mudahnya ketemu toilet itu seperti mendapat bantuan dari surga. Jadi, tidak perlu khawatir kalau kalian kebelet saat menikmati perjalanan selama di Jepang.

 

  • Tidak ada makanan yang tidak enak.

Dengan kata lain, hampir semua makan di Jepang enak, bahkan yang dijual di combini alias minimarket saja enak. Menurut saya, karakter makanan di Jepang itu walau tidak banyak bumbu, tapi tetap ada rasanya, dan rasanya sangat pas. Saya rasa ini yang membuat turis asing cocok dengan makan Jepang, karena tidak banyak bumbu seperti kebanyakan makan di Asia Tenggara yang bikin mereka langsung sakit perut setelah makan. Orang Jepang juga punya standar yang tinggi dalam memilih bahan makanan, bahkan untuk masakan rumah sekalipun. Itu juga yang membuat harga sayur dan buah cukup mahal di sana.

Saat di Hakone, hostel saya punya program makan malam bersama ala yakiniku dengan menu utama ikan. Awalnya saya malas ikut, karena cuma makan ikan, walau saya suka makan ikan. Namun, karena ini pengalaman baru, saya pikir saya harus ikut.

Saya makin sadar kalau takabur itu tidak baik. Saat saya cicipi ikannya, rasanya sangat enak dan tidak amis sama sekali. Padahal saya tidak lihat ada bumbu khusus yang dilumuri di ikan tersebut. Saya heran bagaimana cara mereka mengolahnya. Apakah itu memang rasa asli dari ikannya atau memang sudah sempat dibumbui? Sudahlah, jangan teralu dipikirkan yang penting nyatanya ikan saja enak di sana. Mungkin karena itu juga, orang Jepang suka makan ikan dan produk laut lainnya.

 

  • Apa-apa mahal.

Tidak dipungkiri hal ini memang benar. Rata-rata harga di Jepang itu mulai dari 100 Yen atau sekitar 10.000 ribuan ke atas itu pun belum termasuk pajak, tapi saya masih ketemu beberapa snack yang harganya 50 Yen walau jarang.

Setelah saya amati, harga makanan dan transportasi yang paling mahal. Harga pakaian dan penginapan rata-rata masih sama seperti harga di tanah air, hanya beda sedikit. Jadi, kalau mau liburan ke Jepang, alokasikan dana yang cukup banyak untuk makan kalau memang pengin bisa makan 2 sampai 3 kali sehari. Namun, walau harga makanan mahal, porsi yang didapat menurut saya besar dan sangat mengenyangkan. Worth the money-lah. Jadi, janganlah terlalu khawatir dan perhitungan juga.

 

  • Orang Jepang segan bicara dengan orang asing.

Ini saya alami saat di Kuil Sensoji Asakusa. Waktu itu, karena penasaran saya pengin ikut omikuji atau mengambil kertas ramalah di kuil yang populer itu. Karena pengin tahu apa di kertas ramalan itu ada bahasa Inggrisnya atau tidak, saya hendak tanya kepada dua cewek Jepang di dekat saya. Pas tahu saya mendekat, mereka langsung pura-pura sibuk dan pura-pura budek (perasaan saya bilang begitu) karena lihat saya orang asing. Tapi, saat saya dekati dan tanya pakai bahasa Jepang, mereka langsung noleh dan akhirnya jawab pertanyaan saya dengan sopan.

Saya rasa, orang Jepang pasti mikir kalau orang asing itu tidak bisa bahasa Jepang. Selain itu, orang Jepang terkenal tidak terlalu jago berbahasa Inggris. Makanya mereka terkesan segan atau takut bila didekati orang asing. Teman orang Jepang saya bilang kalau memang mereka belajar bahasa Inggris di sekolah hanya untuk ujian, bukan untuk dipraktikkan. Bahkan, guru bahasa Inggrisnya saja hanya pintar teori, praktiknya belum tentu.

Pegawai hostel di Jepang pun kebanyakan orang asing. Waktu di Tokyo, resepsionis hostel saya sangat pintar bahasa Inggris, saya pikir dia orang Jepang ternyata orang Taiwan. Lalu ada juga ibu-ibu yang wajahnya tidak terlalu jepang tapi masih sipit dan kulit coklat, saya pikir ia orang Jepang selatan, ternyata orang Filipina. Walau tidak semuanya begitu, saya simpulkan kalau kebanyakan pegawai hotel dan hostel di Jepang itu “diimpor” dari luar negeri. Ya, karena memang dicari yang pintar berbahasa Inggris. Namun, jangan khawatir, kesulitan bahasa tidak akan memengaruhi jalan-jalan kalian di Jepang, kok.

 

  • Orang Jepang suka hal-hal yang keprancis-prancisan.

Barangkali perasaan saya saja yang menganggap kalau orang Jepang terobsesi atau mungkin tepatnya banyak terinspirasi dari hal-hal yang berbau Prancis. Sering sekali saya lihat, terutama di dorama-dorama Jepang tema yang mengangkat tentang hal yang ada kaitannya dengan Prancis, misal tentang koki, musisi, pelukis, dan lain sebagainya. Ini juga yang saya lihat saat di Jepang. Banyak restoran dan toko yang memakai nama Prancis, istilah-istilah juga banyak memakai istilah dalam bahasa Prancis. Bahkan, saya yakin Tokyo Tower pun mungkin terinspirasi dari Eiffel Tower yang ada di Paris karena memang sangat mirip.

Terlepas dari yang saya simpulkan asal-asalan itu, Jepang menyerap hal-hal yang keprancis-prancisan ini dengan baik, dan itu pun tidak membuat mereka lupa akan akar Jepang mereka. Hanya sekadar menyerap bukan berarti mengikuti atau mengopi mentah-mentah. Karakter aslinya masih tetap ada. Itu yang saya suka.

 

  • Vending machine tersebar di mana-mana.

Jepang memang terkenal dengan vending machine-nya. Tidak hanya minuman biasa sampai minuman dengan berbagai varian rasa, jajanan sampai es krim pun dijual di mesin penjual canggih ini. Sepertinya di tiap beberapa meter, pasti ketemu vending machine.

Saya kurang tahu bagaimana sejarahnya, tapi dengan cara ini bisa memudahkan orang untuk beli minuman saat haus, terutama saat musim panas. Namun, jangan tergiur juga tiap lihat vending machine dan pengin beli minum, karena rata-rata harga minumannya cukup mahal kalau dirupiahkan. Yang ada nanti uang habis cuma buat beli minum atau jajan.

Yang menarik, vending machine ini ternyata tidak hanya ada di kota atau di tempat terbuka. Saat saya tersesat cari tempat onsen di Hakone ke tempat antah-berantah yang sepi dan sudah kayak hutan gitu saja, saya ketemu vending machine! Paling tidak waktu itu saya tidak merasa sendiri. Cuma saya belum pernah lihat vending machine yang menjual barang selama di Jepang. Saya pernah dengar kalau ada mesin yang jual barang, seperti sandal, sepatu, bahkan alat kontrasepsi. Mungkin di tempat lain ada kali, ya. Lain kali akan saya cari kalau ke Jepang lagi. Hehehe.

Apa kalian yang sudah pernah ke Jepang juga ketemu fakta menarik lain tentang Jepang? Kalau ada, coba komen di kolom komentar, ya!

Advertisements

2 Comments

  1. Belom pernah ke Jepang.
    Tapi kalau ke Jepang nanti aku bakal niru kamu, observasi sana sini, dan bikin fakta menarik tentang Jepang versi aku.

    Senang deh bacanya, terimakasih untuk sharing fakta menarik dari Jepang!

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s