Mengulik Fenomena Kehidupan di Jepang

Semua sudah tahu kalau Jepang merupakan salah satu negara maju di dunia dan bisa jadi yang paling maju di Asia. Jalan-jalan ke Jepang pun sudah menjadi hal yang wajib dilakukan bagi para pelancong dunia karena memiliki akses yang mudah, pemandangan alam yang indah, kuliner yang khas, dan berbagai jenis hiburan yang unik.

Terlepas dari itu semua, kehidupan warganya juga menarik untuk diulik. Beberapa tahun belakangan, banyak muncul fenomena yang barangkali beberapa di antaranya hanya terjadi di Jepang yang malah bikin jadi tren di sana. Kok bisa? Fenomena macam apa saja itu?

Berikut akan saya paparkan di sini berbagai fenomena kehidupan di Jepang yang saya dapatkan dari hasil ngobrol-ngobrol dengan beberapa orang Jepang saat traveling ke Jepang beberapa waktu lalu dan dari berbagai sumber. Jadi, kalau misal ada beberapa hal yang tidak sesuai, saya harap kalian yang tahu lebih banyak bisa mengoreksinya di bagian komentar, ya. Yuk, mulai!

  • Fenomena HikikomoriFenomena ini biasanya terjadi di kalangan remaja atau orang dewasa di mana mereka mengalami perubahan sikap yang muncul akibat depresi atau hal unik lainnya yang membuat mereka ingin mengurung diri dan menghindari keramaian sosial. Awalnya saya tahu fenomena ini dari nonton drama Dating – How It’s like to Fall in Love yang sangat kocak. Alasan kenapa banyak orang Jepang mengalami hikikomori bisa beragam, misal berkali-kali gagal dalam wawancara kerja, masalah percintaan, perundungan, dan lain-lain. Karena mereka hanya mengurung diri di rumah, mereka tidak memiliki pekerjaan dan mau tidak mau harus dihidupi oleh keluarga mereka sendiri. Cukup miris, karena di sisi lain orang Jepang dikenal sangat gila kerja.
  • Fenomena Ijime. Tadi saya sempat sebutkan salah satu alasan terjadinya hikikomori karena perundungan atau bullying. Ijime merupakan fenomena yang sudah tidak asing lagi di Jepang. Mulai dari anak SD sampai salaryman pun bisa dirundung. Fenomena ini memang tidak hanya terjadi di Jepang, di negara lain seperti Indonesia juga marak terjadi. Hanya saja di Jepang, ijime sudah sangat mengkhawatirkan dan terkesan sudah mendarah daging di kehidupan sosialnya. Saking tidak kuatnya di-ijime, korban bisa sampai bunuh diri hanya agar bisa terhindar dari aksi bullying. Bahkan sering kali sekolah menutup-nutupi bila ada kejadian ini karena tidak mau reputasi sekolah mereka buruk. Parah juga, ya?
  • Fenomena Kodokushi. Mendengar fenomena yang satu ini bikin saya merinding. Kodokushi merupakan fenomena di mana orang sengaja membuat diri mereka sekarat sendirian, yang otomatis bikin mereka meninggal sendirian di apartemen mereka yang super sempit. Anehnya, fenomena menyedihkan ini malah katanya jadi tren di Jepang. Duh! Kalau teori saya, orang Jepang memang dikenal sangat individual, malah cenderung tidak peduli akan keadaan sekitar. Intinya mereka tidak mau ikut campur urusan orang lain dan tidak mau merepotkan orang lain (beda banget, ya, sama orang Indonesia. Hehehe). Jadinya, mereka milih untuk menderita sendiri saja. Barangkali kurang lebihnya seperti itu.
  • Fenomena Muenshakai. Kalau sebelumnya kodokushi fenomena sekarat sendirian, muenshakai fenomena di mana masyarakat Jepang yang hubungan relasinya terputus, walau dulunya mereka menikah dan berkeluarga, yang menyebabkan mereka hidup dan tinggal sendirian. Cukup menyedihkan, tapi di balik semua itu, pasti ada alasan kenapa mereka memilih untuk hidup ber-muenshakai. Kebanyakan orang yang hidup dengan cara seperti ini, mereka yang sudah berusia tua. Saya rasa, fenomena ini ada kaitannya dengan fenomena di mana belakangan banyak warga lansia di Jepang yang sengaja melakukan kejahatan agar dipenjara. Waduh! Alasannya karena mereka kesepian dan agar bisa mendapat hidup yang lebih menyenangkan dan bisa bersosialisasi di penjara. Di sinilah ternyata peran keluarga itu sangat penting, guys.
  • Fenomena Jisatsu. Jisatsu merupakan fenomena bunuh diri yang belakangan semakin marak terjadi di Jepang. Selain dikenal sebagai negara maju, Jepang juga dikenal sebagai negara yang tingkat bunuh dirinya tinggi di dunia. Memang, semakin maju sebuah negara cenderung bikin masyarakatnya semakin tertekan. Sebenarnya fenomena bunuh diri di Jepang sudah ada dari masa perang dulu, hanya saja tujuannya beda, yaitu dulu sebagai bentuk loyalitas kepada negara, organisasi, atau keluarga. Di masa sekarang, bunuh diri banyak terjadi karena depresi akan beban hidup serta ketidakmampuan dalam mengatasi masalah yang dihadapi. Yang bikin miris, ada kasus anak seumuran SD sudah bisa memikirkan cara untuk bunuh diri! Alasannya karena sering dirundung atau ditindas di sekolahnya. Remaja dan lansia pun banyak yang memilih untuk bunuh diri dengan alasan masing-masng. Yang menarik lagi, katanya ada situs khusus untuk melakukan jisatsu, di mana para calon pelaku jisatsu bisa saling berbagi cara, kiat-kiat, dan nasihat tentang bunuh diri, sampai menyusun kalimat untuk surat wasiat. Edun! Ini menunjukkan kalau rasa bertahan hidup yang dimiliki orang Jepang dalam menghadapi masalah masih sangat kurang. Mungkin karena karakter orang Jepang yang individual tadi berpengaruh juga, ya?
  • Fenomena Joshi Kosei. Apa itu joshi kosei? Ini merupakan pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh gadis-gadis remaja SMA di Jepang yang bekerja sebagai SPG. Biasanya mereka membagikan selebaran di pinggir jalan. Namun, di balik itu semua diketahui ada prostitusi terselubung. Mungkin juga tidak semua SPG remaja SMA seperti ini. Bisa dilihat dari lokasi mereka menyebarkan selebaran. Kalau mereka menyebarkannya di lokasi sasaran prostitusi, bisa jadi mereka itu pelaku joshi kosei. Walau prostitusi legal di Jepang dan sudah sangat melanglang buana, prostitusi yang melibatkan gadis remaja ternyata ilegal, lho. Hm…
  • Fenomena Pria Herbivora, Karnivora, Omnivora, dll. Bingung dengan fenomena ini? Saya pun awalnya begitu. Ini ialah label yang diberikan kepada pria berdasarkan karakter mereka dalam hubungan percintaan. Dalam bahasa Jepang, berhubungan seks disebut hubungan daging. Jadi, label herbivora, karnivora, dan omnivora ini ada kaitannya dengan hal tersebut.
    • Pria Herbivora: Mereka yang pemalu, pasif, lembut, percaya diri kurang, dan memiliki hasrat rendah untuk memiliki pacar, menikah, atau berhubungan seks. Belakang fenomena pria herbivora makin menjamur di Jepang. Alasan utamanya karena mereka sudah lelah dengan jam kerja yang panjang, dan tidak punya waktu lagi untuk berromansa.
    • Pria Karnivora: Mereka yang macho, aktif, bisa berhadapan dengan wanita, dan akan mengejar wanita yang disukai sampai dapat. Yah, tipe klasik pria pada umumnya, dan cenderung dianggap sebagai playboy.
    • Pria Omnivora: Tipe ini mereka yang bisa menjalin hubungan dengan siapapun. Mungkin maksudnya tidak pilih-pilih pasangan, yang seperti apa saja oke. Barangkali, ya?
    • Pria Kol Gulung: Terinspirasi dari makanan kol isi daging, ini tipe pria yang dari luar tampak seperti herbivora, tapi dari dalam sebenarnya karnivora. Maksudnya dari luar lembut, tapi ternyata agresif dengan wanita. Belakangan, wanita Jepang, katanya, lagi suka sama jenis pria kol gulung ini.
    • Pria Babi Asap Isi Asparagus: Ini kebalikan dari kol gulung. Dari luar tampak seperti karnivora, tapi ternyata setelah kenal lebih jauh mereka herbivora. Kasihan juga wanita yang dapat pria jenis ini. Mereka pasti merasa seperti di-PHP-in. Hehehe.
    • Pria Puasa: Ini jenis pria yang sama sekali tidak memiliki hasrat atau tertarik pada wanita, dianggap seperti sedang puasa. Lucu juga. Tipe ini yang saat ini katanya lagi hits di Jepang, lho!

Kalau diulik-ulik lagi, saya rasa masih akan ada banyak lagi fenomena yang bisa dibahas. Namun, karena keterbatasan wawasan jadinya segini saja yang bisa saya informasikan.

Saya jadi penasaran, kira-kira dalam beberapa tahun ke depan, fenomena apalagi, ya, yang akan jadi tren di Jepang? Selain itu, apa kalian setuju kalau fenomena-fenomena di atas jadi tren? Coba share di kolom komentar, ya! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s