Sial Tapi Untung di Filipina

Saat mendarat di Manila dari Tokyo untuk transit, saya sudah merasakan sedikit firasat buruk.

Apa yang terjadi? Saat saya ke konter transit untuk pengecekan tiket, mbak-mbak petugasnya mengecek tiket saya dengan teliti dan cukup lama. Setelah selesai, dia langsung bilang kepada saya,

“Sorry, Sir, this flight has already flown. You’ve missed your flight.”

Saya ketinggalan pesawat untuk balik ke Denpasar, karena pesawat yang saya naiki, Philippine Airlines dari Haneda Tokyo delay ke Ninoy Aquino Manila! Sial, mana sudah malam. Saya malas benar kalau mesti nginap di bandara karena ternyata baru ada penerbangan lagi besok malam dengan jadwal yang sama dengan jadwal saya yang seharusnya terbang hari itu.

Mbak petugas menyuruh saya untuk menunggu di ruang tunggu untuk diberi kabar selanjutnya. Saya pasrah saja dan tetap tenang, meski dalam hati tetap ada pikiran males banget kalo mesti tidur seharian di bandara.

Setelah lama menunggu di ruang tunggu, saya dihampiri oleh Mbak petugas tadi sambil menyodorkan beberapa tiket voucher kepada saya, sambil menjelaskan panjang lebar itu voucher apa saja dengan bahasa Inggris beraksen Tagalog yang khas,

“So, Sir, these are your vouchers. One for hotel transfer, two for airport transfer to your hotel and back from the hotel to the airport. You will be assisted by our staff to get your luggage and then go to your hotel transfer. Please make sure that you show these vouchers to the airport transfer counter to get to the hotel, and after arriving in the hotel, show the hotel voucher to the reception they will provide a special room for you. Breakfast, lunch, and dinner included. Also, the day after, the airport transport will pick you up at 6pm to get back to the airport.”

“O…okay,” jawab saya dengan muka lempeng.

Segera saja saya diantar ke petugas yang akan menemani saya mengambil bagasi, cap imigrasi, dan akhirnya ke konter airport transfer. Lucunya, karena saya selalu dikira orang Filipina, mereka selalu ngajak saya ngomong pakai bahasa Tagalog, tapi setelah lihat saya selalu geleng-geleng tanda tak paham, mereka langsung ubah pakai bahasa Inggris. Untungnya petugasnya semuanya baik, ramah, dan melayani dengan baik sehingga tidak bikin penumpang panik dan gelisah. Saya rasa memang sudah semestinya begitu.

Setelah semua urusan imigrasi dan ini itu selesai, saya langsung diangkut bersama seorang penumpang asal Australia ke hotel transfer oleh transport bandara. Untungnya orang Aussie ini doyan ngobrol, jadi kita ngobrol sepanjang perjalanan. Itung-itung biar gak krik aja di dalam mobil. Karena ini kali pertama saya menginjakkan kaki di Filipina, saya sempatkan lihat-lihat pemandangan kota Manila yang sama persis dengan kota Jakarta dari jendela mobil.

Saya pikir saya akan dapat hotel yang biasa-biasa saja, bahkan mungkin saja hotel buluk, pokoknya saya terima sajalah. Namun, begitu sampai ternyata hotelnya cukup mewah! Baru masuk lobby saja langsung disuguhi pemandangan tangga berkarpet merah. Cerita bakal hidup mewah sehari, nih. Aseek! Saya girang! Kamar yang saya dapatkan pun cukup luas dengan pemandangan yang cakep pula. Lelah saya pun hilang seketika.

Karena masih ada waktu sehari, saya berencana jalan-jalan besok pagi keliling Manila, tapi dekat-dekat hotel saja karena waktu terbatas. Apalagi saya tidak bawa uang untuk ditukarkan ke Philippine Peso. Rencananya, sih, begitu, tapi begitu lihat cuaca di apps dan temperaturnya mencapai 34 derajat, saya jadi mikir-mikir lagi. Panas bener ternyata Manila, cuy!

Tidak hilang akal, saya tetap keluar pakai payung yang saya beli di Tokyo. Ada gunanya juga ternyata. Hahaha. Walau panas terik, ada bagusnya juga karena foto jadi kelihatan bagus karena cahaya alami. Saya sempat nyetrit dan motret sekeliling walau sambil bercucuran keringat.

Sunset yang cakep dan dramatis dari balkon kamar hotel saya.

Oya, selama saya jalan-jalan di sekitar hotel, orang sana sering ngira saya orang lokal. Jadi, kadang suka disapa pake bahasa Tagalog, tapi karena saya gak paham, saya senyumin aja. Hehehe.

Memang kalau lihat sekilas mirip orang Filipina, sih. Menurut kalian? Hehehe.

Walau sebenarnya saya kena sial karena pesawat yang delay, tapi saya malah menikmati sekali kesialan saya ini, malah saya untung bisa nginep di hotel mewah. Mungkin ini balasan dari Tuhan karena selama sepuluh hari di Jepang saya tidur pindah-pindah hostel, lelah jalan (sendiri pula), mesti hidup hemat lagi. Jadi, inilah saatnya saya istirahat dan tidur di kasur yang empuk dan nyaman. Yah, saya anggap saja begitu. Saya bersyukur sekali.

Kalian pernah ngalamin hal sama juga? Coba share pengalaman kalian di kolom komentar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s